Presiden Brasil Terkejut Banyak Nyawa Melayang Dalam Operasi Tumpas Geng Narkoba

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva. ( animasi : indo98)
INDONESIA98.COM-Rio De Janeoro| Sebuah operasi polisi di Rio de Janeiro, Brasil, menjadi sorotan setelah mengakibatkan jumlah korban tewas yang tinggi.

Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, mengaku terkejut dan ngeri melihat banyaknya insiden fatal tersebut, terutama karena operasi berskala besar itu dilakukan tanpa sepengetahuan pemerintah federal.

Menteri Kehakiman Ricardo Lewandowski menyampaikan keprihatinan Presiden atas banyaknya nyawa yang melayang. Awalnya, kantor pembela umum melaporkan 132 orang tewas, namun pembaruan dari polisi negara bagian mengonfirmasi 119 orang meninggal, terdiri dari 115 anggota geng dan empat petugas.
Di sisi lain, respons terhadap operasi ini terpecah. Pemerintah negara bagian Rio memuji operasi itu sebagai keberhasilan dalam menekan geng narkoba kuat, Comando Vermelho, yang telah menguasai sebagian besar wilayah kota.
Sejumlah besar polisi, didukung kendaraan lapis baja, helikopter, dan drone, terlibat dalam operasi yang digambarkan sebagai “pemandangan perang”.
Gubernur Claudio Castro menyebut operasi ini sebagai penumpasan “narkoterorisme” dan menyatakan keberhasilan, mengklaim satu-satunya korban jiwa dari pihak mereka adalah petugas polisi.
Namun, pandangan berbeda datang dari warga dan aktivis hak asasi manusia. Warga di favela Complexo da Penha, tempat pertempuran sengit terjadi, menemukan puluhan jenazah di hutan pinggiran.
Beberapa jenazah ditemukan dalam kondisi mengenaskan, bahkan ada yang terpenggal dan hangus. Warga menuduh operasi tersebut sebagai “pembantaian” dan bukan operasi penegakan hukum biasa.
Raull Santiago, seorang aktivis dan warga, menegaskan banyak korban dieksekusi dengan tembakan di bagian belakang kepala atau punggung.
Sekretaris polisi sipil Felipe Curi membela diri dengan menuduh warga telah melucuti pakaian dan senjata jenazah, sehingga mayat-mayat tersebut ditemukan dalam kondisi minim pakaian.
Di tingkat internasional, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinannya, dan Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia menyerukan investigasi menyeluruh atas insiden ini. Pengacara yang mewakili keluarga korban juga menyoroti kejanggalan dalam kematian beberapa korban yang menurutnya “dibunuh dengan darah dingin”.