UMSU Buka Jalan Jadi Pusat Pelatihan Pekerja Migran Indonesia

Rektor UMSU Prof. Dr. Akrim, M.Pd saat membuka Pelatihan Diplomasi Islam Berkemajuan yang digelar Lembaga Hubungan Kerjasama Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama UMSU, Selasa (22/9).

INDONESIA98.COM, MEDAN – Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) membuka peluang memperluas perannya dalam penyiapan pekerja migran Indonesia (PMI) sebelum diberangkatkan ke luar negeri. Gagasan itu mencakup penyediaan pelatihan kompetensi, bahasa hingga pembekalan kesiapan kerja sesuai kebutuhan negara tujuan.

Peluang tersebut disampaikan Rektor UMSU Prof. Dr. Akrim, M.Pd saat membuka Pelatihan Diplomasi Islam Berkemajuan yang digelar Lembaga Hubungan Kerjasama Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama UMSU, Selasa (22/9).

Bacaan Lainnya

Pelatihan yang berlangsung hingga Kamis (24/9) di Auditorium UMSU, Jalan Kapten Muchtar Basri No. 3 Medan, tersebut menjadi bagian dari penguatan kapasitas kader Muhammadiyah dalam membangun jejaring internasional sekaligus mengangkat isu diplomasi kemanusiaan dan perlindungan pekerja migran.

Menurut Prof. Akrim, perguruan tinggi memiliki sumber daya yang cukup untuk mengambil bagian dalam menyiapkan calon PMI agar tidak hanya memiliki keterampilan sesuai bidang pekerjaan, tetapi juga kemampuan komunikasi dan bahasa yang dibutuhkan di negara tujuan.

“Kita mungkin akan menyediakan tempat pelatihan-pelatihan pekerja di UMSU sebelum berangkat ke luar negeri. Nantinya kita bisa berkolaborasi dengan LHKI untuk memfasilitasi,” ujar Prof. Akrim.

Ia bahkan berharap UMSU ke depan dapat mengambil peran lebih jauh dalam proses penyaluran tenaga kerja Indonesia ke luar negeri melalui kerja sama dengan pemerintah dan LHKI PP Muhammadiyah.

“Kalau diperbolehkan, UMSU menjadi salah satu penyalur tenaga kerja Indonesia ke luar negeri. Mudah-mudahan ini bisa tercapai,” katanya.

Peluang tersebut, kata Prof. Akrim, semakin terbuka karena sejumlah perusahaan di Malaysia telah menyampaikan kebutuhan tenaga kerja kepada UMSU. Kebutuhan itu antara lain berasal dari sektor makanan dan minuman serta bidang kesehatan.

UMSU, lanjutnya, baru saja mendampingi perusahaan asal Malaysia, Hasani Group, dalam proses perekrutan 17 pekerja dari Medan.

“Perusahaan-perusahaan dari Malaysia pun senantiasa sudah meminta pekerja ke UMSU. Kita sudah mulai mencari tenaga kerja, khususnya yang saat ini paling banyak dibutuhkan di bidang F&B atau restoran, dan termasuk juga di bidang kesehatan,” ujarnya.

Namun, menurut Prof. Akrim, peluang penempatan PMI tidak hanya terbuka di Malaysia. UMSU juga melihat peluang di berbagai negara lain dengan memanfaatkan sumber daya akademik yang dimiliki, termasuk Program Studi Kedokteran, Keperawatan, Farmasi dan Kebidanan.

Salah satu tantangan yang perlu dipersiapkan sejak awal adalah kemampuan komunikasi dan penguasaan bahasa. Kebutuhan itu menjadi semakin penting ketika tenaga kerja Indonesia ditempatkan di negara-negara Timur Tengah maupun Eropa.

“Ini tugasnya UMSU untuk mempersiapkan tenaga kerja yang siap digunakan, yang siap pakai, khususnya dari sisi kebahasaan,” tegasnya.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, UMSU telah memperkuat pusat bahasa yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat pembekalan calon PMI. Dengan pembekalan itu, calon pekerja diharapkan tidak hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga mampu berkomunikasi secara efektif sesuai lingkungan kerja dan negara tujuan.

Bagi Prof. Akrim, penyiapan PMI juga tidak bisa dipisahkan dari aspek perlindungan. Karena itu, ia mendorong kolaborasi antara pemerintah, Muhammadiyah, perguruan tinggi dan komunitas agar pekerja Indonesia yang berangkat ke luar negeri memiliki kompetensi sekaligus perlindungan yang memadai.

“Pemerintah punya kebijakan dan kewenangan, Muhammadiyah memiliki jaringan gerakan, perguruan tinggi punya sumber daya dan pengetahuan, dan komunitas punya pengalaman. Di sinilah perlunya kita berkolaborasi,” katanya.

UMSU sendiri telah memiliki pengalaman dalam isu pekerja migran Indonesia di luar negeri. Selama tiga tahun terakhir, UMSU menjalankan berbagai kegiatan pengabdian masyarakat di Malaysia, termasuk membina anak-anak pekerja migran Indonesia melalui sekitar 50 sanggar bersama Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia.

Pengalaman tersebut, menurut Prof. Akrim, dapat menjadi modal untuk memperkuat peran UMSU dalam isu PMI sekaligus memperluas jejaring Muhammadiyah di tingkat internasional.

Pelatihan Diplomasi Islam Berkemajuan diawali Dialog Pra Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah bertajuk “Diplomasi Kemanusiaan dan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia: Perspektif Pemerintah dan Parlemen.”

Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. Syafiq Mughni, M.A menjadi narasumber kunci dengan menyampaikan materi “Internasionalisasi Muhammadiyah dan Islam Berkemajuan.”

Prof. Syafiq mengatakan, perkembangan Muhammadiyah saat ini tidak lagi terbatas sebagai organisasi nasional. Muhammadiyah telah membangun jaringan dan kemitraan di berbagai negara sehingga dituntut semakin aktif mengambil bagian dalam dinamika global.

“Dunia sekarang sangat jelas menuntut bahwa Muhammadiyah harus hadir di dalam kancah internasional. Jangan menjadi organisasi yang berada di sudut dunia ini, tetapi menjadi sebuah organisasi yang berada di tengah-tengah pusaran global,” kata Prof. Syafiq.

Ia menyebutkan, saat ini terdapat Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di sekitar 30 negara. Jaringan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam memperluas gerakan Muhammadiyah di luar negeri.

Selain PCIM, Muhammadiyah juga memiliki sejumlah sister organization di berbagai negara. Organisasi-organisasi tersebut memiliki kesamaan visi dalam bidang dakwah, pendidikan dan amal sosial, meski berdiri sebagai badan hukum di masing-masing negara.

Menurut Prof. Syafiq, keberadaan jaringan internasional tersebut menjadi modal penting dalam proses internasionalisasi Muhammadiyah. Kerja sama juga terus dibangun dengan berbagai lembaga di luar Muhammadiyah yang memiliki perhatian dan tujuan serupa.

Meningkatnya perhatian masyarakat internasional terhadap Muhammadiyah, lanjutnya, juga terlihat dari semakin banyaknya pihak luar yang datang untuk mempelajari organisasi tersebut, mulai dari tata kelola organisasi hingga model pendidikan Islam yang dikembangkan.

Ia berharap seluruh unsur Muhammadiyah dapat terus bersinergi dalam memperkuat peran tersebut. Pelatihan diplomasi yang digelar di UMSU dinilai menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kapasitas kader Muhammadiyah dalam menjalankan misi kemanusiaan sekaligus membangun jejaring internasional.

Stadium general dalam kegiatan tersebut dipandu Dbs. Bunyan Saptomo dengan menghadirkan Wakil Duta Besar RI untuk Malaysia Danang Waskito, Wakil Ketua Badan Legislasi DPR RI Dr. Ahmad Doli Kurnia Tandjung dan Anggota DPD RI K.H. Muhammad Nuh, M.S.P.

Sejumlah tokoh juga dijadwalkan menjadi pemateri pelatihan, di antaranya Prof. Dr. Din Syamsuddin, Dr. Imam Addaruqutni, Prof. Dr. Muhammad Qorib, M.A., Dbs. Bunyan Saptomo, Agung R. Hidayat, S.H., M.H., Dra. Yayah Khisbiyah, M.A., serta Subhan Setowara, M.A.

Hadir dalam pembukaan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedubes RI di Kuala Lumpur Ir. R. Ahmad Romadhoni Surya Putra, S.Pt., M.Sc., Ph.D., Ketua LHKI PP Muhammadiyah Dr. Imam Addaruqutni, M.A., Sekretaris LHKI PP Muhammadiyah Dra. Yayah Khisbiyah, M.A., Bendahara Puti Hasanatu Syadiah, M.I.Kom., Ketua BPH UMSU Prof. Dr. Agussani, M.AP., Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Keuangan Prof. Dr. Muhammad Qorib, M.A., Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Pengabdian dan Internasionalisasi Dr. Rudianto, M.Si., serta para pimpinan fakultas di lingkungan UMSU. (Hn)