Indonesia98.Com||MEDAN – Ia bukan pohon mangga di belakangnya yang rindang berbuah. Ia adalah pohon yang tumbuh dari kelalaian kita.
Ranting-ranting kering itu tidak ditumbuhi daun. Yang menggantung adalah bungkus kopi instan, kresek merah, kuning, biru, botol plastik air mineral yang penyok, dan tali rafia yang sudah pudar warnanya.
Warna-warni yang sepintas meriah, tapi kalau didekati, aromanya adalah aroma sungai yang tercemar.
Di depan monumen ironis itu, tiga laki-laki berdiri dan mengacungkan jempol. Bukan jempol untuk keindahan, tapi jempol perlawanan.
Di belakang mereka, ada dua pesan yang ditulis tangan dengan spidol di atas kardus bekas:
STOP!!! BUANG
#SAMPAHMU TANGGUNG JAWABMU
Sederhana, to the point, dan menohok.
Monumen dari Sungai
Kalau diperhatikan lebih detail, instalasi ini tidak dibuat asal-asalan. Dasar penyangganya adalah tumpukan botol kaca bekas yang disemen melingkar, seperti tanggul kecil.
Di sisi kiri ada gubuk seng berkarat dengan mural yang sudah setengah terhapus: “berlabuh… dalam… dalam Per…” – kemungkinan tulisan tentang menjaga perairan.
Pohon sampah ini adalah karya edukasi paling jujur. Sang pembuat tidak perlu membeli cat atau bahan mahal. Bahannya diambil langsung dari lokasi masalah: pinggiran sungai, selokan, dan tepi kebun bambu di belakang foto itu.
Semua sampah yang seharusnya tidak ada di alam, dikumpulkan dan dipajang kembali di hadapan manusia sebagai cermin.
Inilah bentuk jurnalisme lingkungan warga yang paling kuat. Tidak perlu seminar, tidak perlu spanduk cetak mahal.
Cukup kumpulkan sampahmu selama seminggu, gantung di depan rumah, dan tanyakan pada dirimu sendiri: seberat inikah jejakku?
Jempol yang Bukan Sekadar Gaya
Tiga orang dalam foto itu – satu dengan kaos hitam, satu dengan topi dan kaos biru, satu dengan rompi lapangan – mewakili kita semua.
Mereka tidak menutup hidung di depan sampah. Mereka justru berdiri tepat di jantungnya.
Jempol yang mereka acungkan bukan berarti “kami suka sampah”. Itu adalah isyarat: “Kami sudah mulai. Kami bertanggung jawab.”
SAMPAHMU TANGGUNG JAWABMU
Memutus rantai kebiasaan lama kita melempar tanggung jawab. Bukan pemerintah saja, bukan petugas kebersihan saja.
Sampah yang kita hasilkan, dari bungkus jajan anak hingga botol minum kita, adalah utang ekologis kita sendiri.
Pohon plastik ini tidak akan pernah berbuah mangga. Tapi ia sedang berbuah kesadaran. Dan buah itu jauh lebih penting untuk kelangsungan sungai, kebun bambu, dan kampung di sekitarnya.
Jika hari ini kita masih bisa memilih, mau mewariskan pohon mangga yang di foto itu, atau mewariskan pohon plastik yang di depannya?(Red:Indo98)



