INDONESIA98.COM|Sumut– Di tengah kondisi ekonomi global yang lagi serba nggak pasti, langkah berani Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa, bikin banyak pihak optimis. Kebijakan fiskal yang ia dorong bukan cuma soal “jaga-jaga” anggaran, tapi juga jadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi. Sinyalnya jelas: pemerintah serius mendukung sektor riil dan menjaga daya beli masyarakat.
Salah satu gebrakan paling jadi sorotan adalah penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun di bank-bank BUMN (Himbara). Buat apa? Tujuannya supaya bank punya likuiditas kuat dan bisa lebih agresif menyalurkan kredit ke sektor riil. Tapi bukan sembarang kredit—dana ini nggak boleh dipakai buat beli obligasi, melainkan wajib disalurkan ke kredit produktif, terutama untuk UMKM dan proyek strategis.
Seperti yang juga ditegaskan oleh Dr. Ahmad Prayudi, Ekonom dari Universitas Medan Area, kebijakan ini memang bukan sekadar memindahkan dana, melainkan strategi cerdas agar uang negara benar-benar menjadi “darah segar” yang mengalir langsung ke perekonomian. Dampaknya jelas: usaha bisa ekspansi, lapangan kerja baru tercipta, dan konsumsi masyarakat naik. Semua ini penting karena konsumsi dalam negeri adalah motor utama ekonomi Indonesia.
Selain soal kredit, Purbaya juga kasih perhatian besar ke belanja daerah. Lewat peningkatan Transfer ke Daerah (TKD) dan pengawasan lebih ketat, ia ingin memastikan anggaran daerah dipakai tepat waktu dan tepat sasaran. Harapannya, program pemerintah daerah bisa berjalan mulus dan pertumbuhan ekonomi juga bisa dirasakan sampai ke desa-desa.
Menariknya, pendekatan Purbaya ini nyambung dengan konsep Soemitronomics, yang menekankan keseimbangan antara peran pemerintah dan swasta. Jadi bukan cuma mengandalkan program bantuan sosial, tapi juga bikin sektor swasta lebih percaya diri untuk berinvestasi. Karena ujung-ujungnya, swasta lah yang banyak menciptakan lapangan kerja dan pertumbuhan berkelanjutan.
Singkatnya, strategi Menkeu Purbaya bisa dibilang progresif. Dari memperkuat perbankan, mendorong kredit produktif, sampai memastikan belanja daerah lebih efektif—semua ini jadi fondasi penting buat akselerasi ekonomi nasional. Boleh dibilang, kebijakan ini memang angin segar yang kita butuhkan untuk ngejar pertumbuhan lebih tinggi di tengah badai global.



