INDONESIA98.COM – Di perbukitan Tarutung, Tapanuli Utara, tumbuh tanaman liar yang telah lama dikenal dalam pengobatan tradisional masyarakat setempat. Namanya Bosi-bosi (Timonius flavescens), tanaman yang daunnya biasa direbus untuk diambil airnya dan digunakan sebagai ramuan tradisional.
Kini, tanaman tersebut menarik perhatian peneliti Universitas Sumatera Utara (USU). Melalui serangkaian pengujian laboratorium, tim peneliti menelusuri kandungan senyawa bioaktif daun Bosi-bosi sekaligus menguji potensinya terhadap sel kanker payudara.
Penelitian yang dimulai pada 2023 ini dipimpin Muhammad Fauzan Lubis, dosen Departemen Biologi Farmasi, Fakultas Farmasi USU. Didanai melalui skema EQUITY Project LPDP yang dikelola USU, riset tersebut mempertemukan pengetahuan tradisional dengan teknologi sains modern.
“Sebagian besar penelitian yang mengeksplorasi tanaman ini berasal dari Sumatera Utara. Sebagai peneliti tanaman obat, saya tertarik menggali potensi tanaman khas daerah kita sendiri, termasuk meneliti kemungkinan aktivitasnya terhadap kanker,” ujar Fauzan, di Kampus USU, Senin (26/10/2026).
Berbeda dari cara tradisional yang mengandalkan perebusan, tim USU menggunakan teknologi ekstraksi berbasis prinsip green chemistry atau kimia hijau.
Salah satu pendekatan yang digunakan ialah Natural Deep Eutectic Solvent (NADES), sistem pelarut yang memadukan kolin klorida dan D-glukosa dengan air. Prosesnya dikombinasikan dengan gelombang ultrasonik untuk mengoptimalkan penarikan senyawa dari daun.
Pendekatan ini ditujukan untuk memperoleh ekstrak secara lebih optimal dengan mempertimbangkan aspek lingkungan. Karakteristik ekstrak kemudian dianalisis sebelum memasuki tahap identifikasi senyawa dan pengujian biologis.
Hasil analisis menggunakan teknologi Liquid Chromatography-High Resolution Mass Spectrometry (LC-HRMS), dengan fasilitasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengidentifikasi 13 senyawa bioaktif utama.
Dalam pengujian antioksidan menggunakan metode DPPH, ekstrak tersebut menunjukkan aktivitas penghambatan radikal bebas sebesar 89,32 persen pada konsentrasi 500 mikrogram per mililiter.
Namun, tim tidak berhenti pada pengujian antioksidan. Mereka melanjutkan penelitian untuk mengetahui bagaimana ekstrak tersebut memengaruhi sel kanker payudara.
Pengujian dilakukan secara in vitro menggunakan metode MTT assay pada tiga lini sel kanker payudara. Tim juga menggunakan analisis flow cytometry dan penandaan imunositokimia untuk mempelajari respons sel.
Hasil pengujian menunjukkan indikasi penghambatan siklus sel kanker dan peningkatan apoptosis, yaitu proses kematian sel secara terprogram.
Peneliti menemukan penurunan ekspresi protein cyclin D1, yang berperan dalam pengaturan pembelahan sel, serta peningkatan ekspresi protein p53 yang terlibat dalam pengendalian siklus sel dan respons terhadap kerusakan sel.
Temuan tersebut memberikan petunjuk awal mengenai mekanisme biologis yang mungkin mendasari aktivitas ekstrak daun Bosi-bosi terhadap sel kanker.
Meski demikian, Fauzan mengingatkan bahwa hasil pengujian laboratorium belum dapat disamakan dengan keberhasilan pengobatan pada manusia.
“Temuan ini menjadi dasar untuk meneliti lebih jauh potensi ekstrak daun Bosi-bosi sebagai kandidat bahan alam antikanker,” katanya.
Riset ini melibatkan peneliti lintas institusi, termasuk Fakultas Farmasi USU, Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Kesehatan Helvetia Medan, dan Institut Sains dan Teknologi Nasional Jakarta.
Pengujian sel kanker memanfaatkan fasilitas laboratorium kultur sel di UGM, sedangkan pengujian toksisitas dan preparasi sampel dilakukan bersama tim peneliti di USU.
Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Advances in Traditional Medicine yang diterbitkan Springer.
Selain menguji aktivitas biologis, tim melakukan uji toksisitas akut pada mencit dengan mengacu pada pedoman OECD 420. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilaporkan, tidak ditemukan kematian maupun gejala toksik selama periode observasi 14 hari.
Hasil ini memberikan indikasi awal mengenai profil keamanan ekstrak dalam kondisi pengujian tersebut. Namun, penelitian lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan keamanan penggunaan jangka panjang dan kemungkinan pemanfaatannya pada manusia.
Jalan Panjang Menuju Pemanfaatan
Bagi Fauzan dan timnya, penelitian Bosi-bosi masih merupakan tahap awal. Ekstrak yang dihasilkan belum menjadi produk siap pakai karena masih digunakan untuk pengujian aktivitas biologis dan toksisitas.
Tahap berikutnya mencakup standardisasi ekstrak, pengujian toksisitas lanjutan, serta penelitian lebih mendalam untuk memastikan mutu, dosis, efektivitas, dan keamanannya.
“Kami berharap penelitian ini dapat dilanjutkan hingga tahap standardisasi formula agar mutu, khasiat, dan keamanannya konsisten. Pengujian toksisitas subkronis juga diperlukan sebelum melangkah menuju hilirisasi,” ujar Fauzan.
Perjalanan daun Bosi-bosi dari perbukitan Tarutung menuju laboratorium modern memperlihatkan bagaimana pengetahuan tradisional dapat menjadi pintu masuk bagi penemuan ilmiah.
Potensinya sebagai kandidat bahan alam antikanker memang masih membutuhkan pembuktian panjang. Namun, melalui penelitian berkelanjutan dan pengujian yang ketat, kekayaan hayati Sumatera Utara memiliki peluang untuk terus dieksplorasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kesehatan masyarakat. (Hn)



