WHO Blak-blakan Sebut Dunia Kekurangan Peralatan Medis untuk Tangani Virus Corona atau Covid-19

by indonesia98

INDONESIA98.COM : WHO Blak-blakan Sebut Dunia Kekurangan Peralatan Medis untuk Tangani Virus Corona atau Covid-19.

Seperti diketahui saat ini negara-negara di seluruh dunia sedang mempersiapkan kemungkinan darurat kesehatan masyarakat terkait penyebaran virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19.

Untuk alasan itu, Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) memperingatkan bahwa kurangnya peralatan pelindung dapat menghambat dalam menanggapi wabah.

Hingga siang ini (5/3/2020), lebih dari 95.000 orang di seluruh dunia dikonfirmasi positif terinfeksi Covid-19 dan menewaskan sedikitnya 3.285 orang sejak pertama kali diidentifikasi di Wuhan, China pada akhir Desember 2019.

Dalam waktu kurang dari 10 minggu, virus ini telah menyebar ke lebih dari 75 negara dan wilayah. Di mana jumlah korban terbanyak ada di China, Korea Selatan, Italia, Iran, dan Jepang.

Dalam jumpa pers pada Selasa (3/3/2020), Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa setiap bulan tenaga medis di seluruh dunia butuh sekitar 89 juta masker medis, 76 juta sarung tangan, dan 1,6 juta kacamata untuk menanggapi wabah Covid-19.

“Bila kekurangan persediaan di atas, semua dokter, perawat, dan pekerja medis yang ada di garis depan tidak memiliki peralatan lengkap dan ini berisiko,” ungkap Tedros dilansir CNN, Rabu (4/3/2020).

“WHO telah mengirim hampir setengah juta set alat pelindung diri ke 27 negara, tapi persediaan menipis,” imbuhnya.

Perlu disadari, saat ini jumlah pasien baru di China memang menurun. Namun jumlah pasien baru di negara lain melonjak tajam.

Sebagai contoh, dalam 24 jam terakhir sejak kemarin (4/3/2020), jumlah pasien baru di China ada 160 orang. Namun di Korea Selatan, jumlah kasus baru bertambah 438 orang.

Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) mengatakan, hingga Jumat (5/3/2020), lebih dari 52.000 pasien di China telah pulang dan dipulangkan dari rumah sakit. Kabar baik, angka ini terus bertambah.

WHO mengatakan, saat ini terus bekerja dengan pemerintah, produsen, dan Jaringan Rantai Pasokan Pandemi untuk meningkatkan produksi dan mengamankan pasokan di negara-negara yang berisiko.

Diperkirakan, pasokan kebutuhan medis di atas perlu ditingkatkan sebesar 40 persen untuk memenuhi kebutuhan.

Infeksi di Iran, salah satu negara yang paling parah terkena dampaknya, kini telah melonjak menjadi lebih dari 2.900 kasus dan 92 kematian, termasuk seorang penasihat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) mengatakan, hingga Jumat (5/3/2020), lebih dari 52.000 pasien di China telah pulang dan dipulangkan dari rumah sakit. Kabar baik, angka ini terus bertambah.

WHO mengatakan, saat ini terus bekerja dengan pemerintah, produsen, dan Jaringan Rantai Pasokan Pandemi untuk meningkatkan produksi dan mengamankan pasokan di negara-negara yang berisiko.

Diperkirakan, pasokan kebutuhan medis di atas perlu ditingkatkan sebesar 40 persen untuk memenuhi kebutuhan.

Korea Selatan mengonfirmasi total kasus ada 5.766 orang dengan jumlah kematian 35 orang, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (KCDC) Korea Selatan.

Dan di Eropa, pihak berwenang mengambil tindakan pencegahan dini untuk menghentikan potensi penyebaran. Beberapa pemerintah mencegah pertemuan besar untuk membatasi transmisi masyarakat, juga menutup ruang publik seperti Louvre di Paris dan rumah opera La Scala Milan.

Di Italia, setidaknya 107 orang meninggal karena SARS-CoV-2 dan lebih dari 3.000 orang telah terinfeksi. Sebagian besar kasus telah dilaporkan di utara negara itu.

Sumber : Kompas.Com

Baca Juga