INDONESIA98.COM, MEDAN – Bagi Rimbawati, dosen di Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, menyediakan sumber energi murah bagi warga di pelosok desa menjadi komitmen pengabdiannya. Tak harus selalu mengeluarkan modal besar, lewat inovasi, Rimbawati sukses mengubah rongsokan berupa motor induksi bekas seharga Rp200 ribu, sinar matahari, hingga limbah kotoran sapi menjadi energi listrik alternatif terbarukan untuk warga desa di pelosok.
Rimbawati telah mendedikasikan dirinya sejak tahun 2004 untuk mengajar di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Dia dikenal sebagai dosen yang mengampu matakuliah Analisa sistem tenaga, Energi Baru dan Terbarukan serta Metode penelitian. Komitmennya menekuni bidang energi baru dan terbarukan dengan fokus penelitian pembangkit listrik tenaga mikrohidro, tenaga surya, dan biogas, membawanya selalu meraih pendanaa Hibah Dikti dari tahun 2015 sampai saat ini. Bermodal Hibah dari Kemndiktisaintek, dari tangannya lahirlah berbagai inovasi , penelitian serta pengabdian masyarakat yang ia lakukan bersama tim.
Cerita kebermanfaatan inovasi nyata dimulai tahun 2017. Saat itu sekitar 30 kepala keluarga di dusun Bintang Asih, Desa Rumah Sumbul mengeluhkan ketiadaan listrik. Warga sama sekali tidak mengenal fasilitas energi listrik dalam kehidupan sehari-hari. Rimbawati bersama tim, kemudian hadir melihat persoalan yang dihadapi warga. Bermodal pendanaan dari Kementerian pendidikan, dia bersama tim membangun proyek kemandirian energi lewat pembangkit listrik tenaga mikrohidro.
Hingga kini, pembangkit Listrik yang memanfaatkan aliran air di sekitar rumah warga masih berfungsi. Rumah-rumah warga yang sebelumnya hidup tanpa listrik akhirnya memperoleh penerangan dan pasokan energi dari potensi alam yang berada di sekitar lingkungan mereka sendiri.
“Dampaknya, yang dulunya mereka tidak mengenal listrik, dari tahun 2017 sampai hari ini mereka sudah dapat mengenyam listrik dari hasil penelitian dan pengabdian yang kami lakukan,” tutur Rimbawati.
Bagi dosen Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) tersebut, inovasi sederhana di bidang energi terbarukan memiliki makna penting. Inovasi itu bukan hanya menghasilkan rancangan di atas kertas atau temuan di dalam laboratorium, melainkan menghadirkan solusi yang benar-benar dapat digunakan masyarakat.
Tidak berhenti di situ, dosen yang dikenal akrab dengan mahasiswanya ini terus berinovasi. Bermodal barang sederhana, yakni motor induksi bekas sekitar Rp200 ribu, rongsokan itu diubah menjadi generator yang kemudian digunakan untuk menopang pembangkit listrik tenaga mikrohidro.
“Dengan harga yang relatif murah, hanya dua ratus ribu rupiah, kami melakukan inovasi dengan mengubah motor induksi tadi menjadi sebuah generator. Kemudian saya aplikasikan untuk membangun pembangkit listrik mikrohidro,” ujarnya.
Pemanfaatan motor bekas menyadarkan bahwa inovasi tidak harus dengan perangkat mahal. Ketelitian dalam membaca kebutuhan dan kemampuan mengolah benda yang tersedia justru dapat melahirkan teknologi tepat guna.
Selanjutnya, ia mengembangkan pembangkit mikrohidro di Dusun Bintang Asih melalui sistem hibrida. Menambahkan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 1.000 watt untuk memperkuat pasokan energi bagi masyarakat.
Kombinasi aliran air dan cahaya matahari tersebut menjadi jalan bagi warga untuk memperoleh energi dari sumber daya yang tersedia di lingkungannya. Teknologi pun tidak berhenti sebagai hasil penelitian, tetapi terus hidup dan memberikan manfaat bertahun-tahun setelah program dijalankan.
Setelah mengembangkan mikrohidro, Rimbawati semakin serius mengulik tenaga surya. Salah satu penerapannya dilakukan pada kawasan wisata di Desa Pematang Johar. Melalui sistem tenaga surya yang dirancang bersama tim, biaya energi listrik di lokasi wisata tersebut dapat ditekan hingga 80 persen. Penurunan biaya itu sangat berarti karena pengelola dapat mengurangi beban operasional sekaligus memanfaatkan sumber energi yang lebih ramah lingkungan.
Bagi Rimbawati, penelitian teknik relatif mudah diarahkan agar memberikan dampak nyata. Berbagai cabang ilmu teknik bersentuhan langsung dengan kebutuhan manusia, mulai dari energi, air, infrastruktur, peralatan, hingga pengelolaan lingkungan.
“Bidang-bidang teknik cenderung banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Riset yang kita lakukan bisa langsung diimplementasikan kepada masyarakat,” katanya.
Perjalanan inovasi Rimbawati juga membawanya ke Desa Bekium, Kecamatan Kuala, Kabupaten Langkat. Desa tersebut memiliki potensi peternakan sapi yang besar, dengan produksi sekitar 1.800 sampai 2.000 ekor sapi per tahun.
Limbah kotoran sapi yang dihasilkan dapat mencapai 18 ton setiap hari. Apabila dibiarkan, limbah tersebut dapat mencemari udara dan air serta mengganggu kenyamanan dan kesehatan lingkungan.
Rimbawati dan tim melihat tumpukan limbah itu dari sudut pandang berbeda. Bagi mereka, kotoran ternak bukan hanya masalah yang harus dibuang, tetapi juga bahan baku energi yang belum dimanfaatkan.
Melalui proyek percontohan pengembangan biogas, masyarakat diedukasi untuk mengolah limbah peternakan menjadi gas. Energi yang dihasilkan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk mengurangi pengeluaran keluarga untuk membeli gas elpiji.
“Nah, itu cara kami memberikan edukasi kepada masyarakat di Desa Bekium, bahwa limbah peternakan yang terbuang dan menjadi polusi udara maupun polusi air dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan gas bagi kebutuhan keluarga,” jelasnya.
Mikrohidro, tenaga surya, dan biogas kini menjadi tiga bidang yang terus dikembangkan Rimbawati. Ke depan, ia berharap ketiganya dapat digabungkan menjadi suatu sistem energi terpadu.
“Semoga ke depan saya bisa mengolaborasikan mikrohidro, tenaga surya, dan biogas yang berasal dari limbah peternakan maupun limbah rumah tangga menjadi sebuah inovasi yang dapat digunakan masyarakat, khususnya di pedesaan,” harapnya.
Di balik rangkaian penelitian dan pengabdian itu, Rimbawati menilai dukungan UMSU memiliki peran penting. Dukungan tersebut diberikan dalam bentuk fasilitas, bantuan materi, laboratorium, serta kelengkapan administrasi seperti surat, surat keputusan, dan dokumen lain yang diperlukan dalam pelaksanaan program.
Menurutnya, hal-hal administratif yang terkadang terlihat sederhana justru menjadi bagian penting dari perjalanan seorang dosen dalam melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, dosen teknik perlu menyediakan waktu setidaknya dua sampai tiga jam setiap hari untuk membaca perkembangan ilmu dan teknologi. Namun, inovasi tidak harus selalu mengejar teknologi paling modern atau meniru pencapaian besar negara lain. (Hn)



