Indonesia98.Com : Dengan masih banyaknya konflik agraria yang mendera petani Indonesia mendapat kritikan keras dari Ketua Umum Bintang Muda Indonesia (BMI) Farkhan Evendi.
” Bukannya berkurang kasus terkait sengketa lahan pertanian tapi malah semakin bertambah di berbagai wilayah di Indonesia,” kata Farhan kepada Indonesia98.Com, Selasa, 11/8/2020.
Farhan mengungkapkan beberapa kasus yang mencuat, ada kasus sengketa agraria di Pancur Batu, Deli Serdang, Sumatera Utara antara Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB) dengan PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II) atas lahan seluas 854,26 hektar. Sengketa ini berkaitan dengan Hak Guna Usaha (GHU) yang kurang direspon dengan baik oleh pihak PTPN II dengan dampaknya kepada para petani.
Petani Majalengka dengan dengan Perhutani. Kasus antara petani di Batang dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Batang terkait sengketa penetapan tanah menjadi kawasan hutan produksi dan memasukkan lahan petani dalam di surat keputusannya.
” Melihat kondisi agraria di Indonesia terkesan pemerintah hanya ingin memonopoli bisnis untuk kepentingan negara tetapi melupakan rakyat petani yang seharusnya juga harus diperhatikan dan dilindungi,” sebut Farhan lagi.
Farhan tegaskan, kedaulatan pangan di Indonesia masih hanya sekedar mimpi ketika kesejahteran petani diabaikan. Kondisi perlindungan dan penanganan sengketa lahan pertanian diberbagai wilayah di Indonesia, menjadi cerminan betapa buruknya penataan dan penyelesaian konflik agraria Indonesia saat ini.
” Berbicara pertanian tidak bisa dilepaskan dengan lahan pertanian dan petaninya, maka pemerintah harus lebih serius kembali memberi perhatian dan penanganan ini,” ujar Farkhan.
Menurut Farhan pemerintah harus lebih cepat tanggap dalam menangani sengketa dan masalah pertanian, serta mengambil keputusan dan kebijakan-arif yang memihak kepada rakyat petani namun tidak merugikan negara.
” Periksa dan evaluasi BUMN terkait, seperti Perhutani dan para pejabat yang terkait konflik agraria. Ketika ini bisa direalisasikan semua akan ada sinergitas antara petani dan pemerintah serta terbentuknya Indonesia yang adil dan makmur,” tutup Farkhan Evendi.



