Ketua Cendikiawan Muda Muslim Sumut Sebut Koalisi PKB-PDIP Pada Pilpres 2024 Sebagai Keniscayaan Sejarah Dan Terjaganya Ideologi Pancasila

Ketua Cendikiawan Muslim Muda Sumatera Utara Dr. Iwan Nst, S.H.I, M.H.I Bersama Ketua Umum PDIP Ibu Hj. Megawati Soekarno Putri, Jakarta.(5/6/2021, Foto/Isti)

INDONESIA98.COM (SUMUT): Derasnya wacana koalisi PKB – PDIP dan paket Abdul Muhaimin Iskandar (Gus AMI) – Puan Maharani atau sebaliknya, sebagai calon presiden – wakil presiden pada Pilpres 2024 mendatang mendapat tanggapan dari Ketua Cendikiawan Muslim Muda Sumatera Utara (Sumut) Dr. Iwan Nst, S.H.I, M.H.I

“Wacana koalisi PKB – PDIP pada Pilpres 2024 merupakan representatif bersatunya NU dan kaum nasionalis dalam membangun bangsa ini. Koalisi ini sangat tepat, ideal dan menjadi keniscayaan sejarah demi tegak dan terjaganya ideologi Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45,  karena kedua partai ini memiliki kesamaan pandangan dalam kebangsaan,” ujar Dr Iwan kepada wartawan, Jumat (5/6/2021) di Medan.

Bacaan Lainnya

Iwan menjelaskan, PKB adalah partainya kaum nahdiyin yang religius nasionalis, sedangkan PDIP adalah partainya kaum nasionalis yang religius. Keduanya bisa saling melengkapi dan akan menjadi kekuatan besar dan sangat baik untuk memimpin Indonesia.

Dalam sejarah Indonesia, lanjut Dr Iwan, koalisi antara kaum religius nasionalis dengan nasionalis religius memang selalu terjadi, bahkan sejak awal perjuangan kemerdekaan hingga kemerdekaan RI diproklamirkan oleh para tokoh bangsa.

Dalam sejarah kemerdekaan dan mempertahankan NKRI dari rongrongan kaum imperialis yang ingin kembali menjajah Indonesia, serta dari kaum anti Pancasila yang ingin merubah ideologi negara, tokoh dari ulama-ulama NU dan kaum nasionalis seperti Bung Karno dan lainnya, pun juga bekerjasama dan bahu-membahu mempertahankan NKRI dan Pancasila sebagai ideologi negara.

“Seandainya dibuat tes DNA, maka sumbangan gen NU dan Nasionalis memiliki persentase tertinggi di banding Gen lain dalam perjuangan kemerdekaan dan mempertahankan NKRI dari berbagai rongrongan, baik dari luar maupun dalam,” canda Dosen UINSU Medan ini.

Karena itulah, Ketua Cendikiawan Muslim Muda Sumut ini menegaskan bahwa wacana koalisi antara PKB dengan PDIP (relegius – nasionalis) pada Pilpres 2024, merupakan sebuah keniscayaan sejarah yang mestinya harus terjadi dan tidak bisa diabaikan, demi tetap tegak dan terjaganya Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD ’45 (PBNU).

Muballig kòndang dari UIN Sumut ini lebih lanjut mengatakan, maraknya faham radikalisme, intoleransi dan menguatnya ideologi anti Pancasila akhir-akhir ini, justru menjadikan koalisi partai berbasis NU yakni PKB dan partai yang berbasiskan kaum nasionalis yakni PDIP, menjadi kebutuhan objektif sejarah.

“Saat ini intoleransi marak serta ideologi trans nasional menguat di berbagai daerah dan lembaga BUMN, menurut beberapa survey, maka koalisi PKB dan PDIP merupakan kebutuhan objektif sejarah demi tegaknya NKRI,” imbuhnya.

Sehingga, sangatlah ideal dan menjadi kebutuhan objektif pula jika pimpinan PKB dan PDIP dipaketkan pada suksesi Pilpres 2024 mendatang. Selain keduanya memiliki kesamaan pandangan dalam kebangsaan, PDIP adalah partai pemenang Pemilu 2019 dan PKB berada di 4 besar pemenang pemilu sehingga bisa kuat dalam pemerintahan. Dan kerjasama kedua partai ini juga terbukti berhasil dan solid dalam dua priode pemerintahan Jokowi.

“Muhaimin Iskandar selaku Ketum PKB dan Puan Maharani selaku Ketua PDIP mewakili Ketum PDIP Megawati Soekarno Putri, sangat tepat dipaketkan pada Pilpres 2024. Terlepas siapa yang akan menjadi capres dan cawapresnya, kita yakini tingkat keterpilihan pasangan ini sangat besar,” tutup Ustaz Iwan.(Moj/I98)