Presidium Lintas Eksponen 98 Sumut : Banjir Rob Belawan, Bukti Pemko Medan Dan Pemprovsu Gagal Kelola Kota Pelabuhan Terbesar Ketiga Di Indonesia

INDONESIA98.COM(MEDAN):Sejumlah anggota Presidium Lintas Eksponen 98 Sumut terdiri dari Rafdinal S.Sos.MAP, Tengku Yans Fauzie. SE dan Rommy Sanjaya SE, berkunjung ke Belawan bertemu dengan pengurus Forum Anak Belawan Bersatu (FABB), 6/9 2021.

Kunjungan dilakukan untuk melakukan observasi dan investigasi awal guna melihat kondisi nyata yang terjadi berkaitan dengan  bencana banjir Rob yang kerap melanda wilayah Medan Utara.

Bacaan Lainnya

Pada investigasi awal dan kunjungan kelapangan yang dilakukan para aktivis 98 tersebut damping  Ketua Umum FABB R. Khairil Chaniago, SekretarisUmum Oktapiandi dan Ketua Bidang Pemanfaatan Kawasan Pesisir dan perikanan, Haris Safii melakukan dialog dengan masyarakat di Belawan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kota Belawan dan kecamatan lainnya yang berada di kawasan  Medan Utara mengalami nasib yang cukup memprihatinkan akibat banjir Rob.

Rafdinal S.Sos. MAP  mengatakan bahwa situasi Medan Utara, khususnya Belawan, dalam pengamatan kami  pada kunjungan awal ini ternyata kota Belawan sebagai salah satu sumber ekonomi daerah kota Medan  tidak berada dalam kondisi yang menguntungkan bagi masyarakat yang mendiaminya.

” Padahal kita tahu bahwa kota Belawan adalah pintu gerbang wilayah barat perekonomian nasional. Ini mengindikasikan bahwa pemerintah kota Medan dan provinsi Sumatera Utara gagal dalam  mengelola kota pelabuhan terbesar ketiga di republik ini,”kata Rafdinal.

” Indikasi kegagalan tersebut cukup jelas terpampang di depan mata, dimana pada setiap bulannya hampir 90 persen wilayah kota Belawan tenggelam dilanda air pasang laut atau dikenal dengan banjir Rob,” ungkap Aktifis yang kerap dipanggil ‘Buya’.

Sambungnyas  lagis hal seperti inip tidak perlu terjadi lagij kepekaan pemerintah tinggi dalam melakukan telaah terhadap  kondisi  sosial ekonomi untuk terciptanya  ruang hidup yg layak bagi masyarakat Belawan dengan penyelesaian masalah dan upaya secara terintegarasi antara pemerintah  kota dan pemerintah propinsi Sumatera maupun pusat.

” Lazimnya kerusakan yang terjadi pada sebuah “zona utama” tidak terlepas dari rusaknya “zona penyangga” atau buffer zone,” tegasnya.

Lebih lanjut Rafdinal, jika di lihat dari fungsi dan  perannya, kota Belawan ini adalah sebuah zona utama, dan zona penyangganya adalah kawasan ekosistem mangrove di kelurahan Sicanang, dan Bagan Deli, serta dua kawasan ekosistem mangrove yang ada di sisi timur dan barat yaitu wilayah Sungai Dua dan Paluh Kurau yang saat ini secara dominan telah mengalami alih fungsi menjadi areal pertambakan dan perkebunan kelapa sawit.

Sederhananya adalah jika pemerintah kota Medan dan pemrovsu memiliki komitmen untuk menata kota Belawan, dapat kita lihat apakah ada ada upaya yang serius yg dilakukan oleh pemerintah dalam memulihkan kembali kerusakan yang terjadi di zona penyangga tersebut dengan melakukan upaya-upaya pemulihan kawasan mangrove dan pengaturan zonasi serta pengawasan yang berkeadilan pada lingkungan dan masyarakat, pemerintah harus bijak  jangan  demi keuntungan ekonomi segelintir orang, kemudian menyebabkan puluhan ribu masyarakat mengalami kerugian.

” Perlu menjadi catatan untuk Badan Restorasi Gambut  dan Manggrove (BRGM) agar tidak tidur menutup mata atas apa yang terjadi di kawasan Utara Medan ini,” ujar Rafdinal mengingatkan.

Berdasarkan dialog bersama masyarakat  yang mengelola Ekowisata Nelayan Cinta Manggrove di peroleh informasi bahwa saat ini telah terjadi penutupan paluh-paluh sungai (anak sungai) diantaranya Paluh Nirih Bungkuk, Paluh Pisang Emas, Paluh Gergaji, Paluh Sagur, Paluh Hiu, Paluh Simpang Empat serta beberapa paluh besar dan kecil lain nya, sehingga hal ini menyebabkan terjadinya sekatan sebaran air pasang laut, dalam arti wilayah sebaran air pasang laut menjadi semakin mengecil dan akhirnya meluber kewilayah pemukiman masyarakat dan kota Belawan.

” Penutupan paluh-paluh yang dilakukan oleh para pengusaha tambak dan perkebunan kelapa sawit tersebut tentunya ikut mempersempit ruang tangkapan nelayan kecil yang mencari kepiting, ikan dan udang dan di khawatirkan akan kembali menciptakan konflik horizontal antar nelayan kecil yang berebut mencari rejeki yang hasilnya yang cuma sekedar untuk menyambung hidup, ini ironi,” ungkap Rafdinal prihatin.

“Melihat kondisi obyektif ini, kami  Lintas Eksponen 98 Sumatera Utara sangat mendukung perjuangan rekan-rekan Forum Anak Belawan Bersatu (FABB) untuk kemaslahatan masyarakat yang mendiami kawasan Medan Utara ini, khususnya dalam menyelamatkan kota Belawan yg juga memerupakan kota yg mempunyai historical  panjang  di kota medan agar tidak terancam tenggelam, apalagi bung KhairilChaniago yang saat ini memimpin FABB adalah bagian dari kami di Lintas Eksonen 98 Sumut, tentunya perjuangan beliau  dengan keberpihakannya kepada masyarakat adalah cita cita  perjuangan kami juga,” sebut Rafdinal.(Ty/I98)