INDONESIA98.COM – Langkah demi langkah para wisudawan memasuki Auditorium Universitas Sumatera Utara (USU), Jumat dan Sabtu (8–9/5/2026). Wajah-wajah bahagia bercampur haru memenuhi ruangan. Toga hitam yang dikenakan ribuan lulusan itu bukan sekadar simbol kelulusan, melainkan penanda panjangnya perjuangan yang telah mereka lalui.
Sebanyak 1.586 wisudawan resmi dikukuhkan Rektor USU Prof. Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si., pada Wisuda Periode III Tahun Akademik 2025/2026. Dengan tambahan itu, total alumni USU kini mencapai 277.132 orang.
Namun di balik angka ribuan lulusan tersebut, tersimpan cerita tentang perjuangan, kelelahan, pengorbanan, hingga doa orang tua yang tak pernah putus.
Di tengah prosesi wisuda yang khidmat, Rektor USU Prof. Muryanto Amin menyampaikan pesan yang sederhana namun dalam. Ia berharap para lulusan tidak berhenti hanya menjadi pribadi yang unggul secara akademik, tetapi juga mampu hadir memberi manfaat nyata di tengah masyarakat.
“Semoga ilmu yang telah diperoleh selama masa perkuliahan dapat menjadi bekal yang berarti dalam kehidupan, serta mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan lingkungan sekitar,” ujarnya.
Pesan itu terasa begitu dekat dengan perjalanan hidup para wisudawan yang selama bertahun-tahun harus bertarung dengan berbagai tantangan.
Bagi dr. Agnelisa Putria Harahap, menyelesaikan pendidikan profesi dokter bukanlah perjalanan mudah. Hari-harinya dipenuhi jadwal belajar yang padat, tugas rumah sakit, dan rasa lelah yang sering datang tanpa permisi.
“Karena kami dari Fakultas Kedokteran, tentu harus belajar lebih ekstra. Saat profesi juga tantangannya ada pada manajemen waktu dan rasa lelah ketika bertugas di rumah sakit,” katanya pelan.
Ada malam-malam panjang yang dihabiskan dengan membaca materi, berjaga di rumah sakit, lalu kembali menghadapi rutinitas akademik keesokan harinya. Namun di balik semua itu, ada keyakinan yang membuatnya terus bertahan: suatu hari perjuangan itu akan sampai pada titik akhir.
Hal serupa dirasakan dr. Ruth Maria Situmorang. Menurutnya, menjadi mahasiswa bukan hanya soal duduk di ruang kuliah dan mengejar nilai. Ada organisasi, kepanitiaan, dan kehidupan pribadi yang juga harus dijaga agar tetap seimbang.
“Kita perlu belajar ekstra, tapi juga tetap aktif di organisasi, kepanitiaan, maupun kegiatan lainnya. Jadi yang paling penting memang manajemen waktu,” ujarnya.
Di sudut lain auditorium, Adli Nadhif, M.P., mengenang perjuangannya menyelesaikan penelitian di luar provinsi. Jarak yang jauh, biaya, serta rasa lelah sempat membuatnya berada di titik jenuh.
“Kadang merasa burnout atau lelah, tapi saya pikir harus tetap dijalani karena pasti insya Allah bisa lulus tepat waktu,” katanya sambil tersenyum.
Hari wisuda akhirnya menjadi jawaban atas segala rasa lelah yang pernah mereka simpan diam-diam.
Di kursi para tamu undangan, para orang tua tampak tak henti mengabadikan momen anak-anak mereka. Ada mata yang berkaca-kaca ketika nama putra-putrinya dipanggil ke atas panggung. Ada tangan yang terus bertepuk dengan bangga.
Bagi banyak keluarga, wisuda bukan hanya keberhasilan seorang anak, tetapi juga hasil dari perjuangan bersama. Tentang ayah yang bekerja lebih keras demi biaya kuliah. Tentang ibu yang diam-diam menyelipkan doa di setiap sujudnya.
Rektor USU pun secara khusus menyampaikan penghormatan kepada para orang tua yang telah mendampingi perjalanan pendidikan anak-anak mereka hingga tuntas.
“Semoga Allah SWT membalas seluruh jasa dan pengorbanan para orang tua yang telah mendampingi putra-putrinya hingga berhasil menyelesaikan pendidikan dengan baik,” ucapnya.
Di penghujung prosesi, satu per satu wisudawan keluar dari auditorium sambil memeluk keluarga mereka. Ada tawa, ada tangis bahagia, dan ada rasa lega setelah bertahun-tahun menempuh perjalanan panjang di bangku kuliah.
Hari itu, toga bukan sekadar pakaian wisuda. Ia menjadi saksi bahwa setiap keberhasilan selalu lahir dari perjuangan, ketekunan, dan doa yang tidak pernah berhenti. (Hn)



