FABB : Wagubsu Dukung Program Rehabilitasi Kawasan Laut Berbasis Rumpon Terpadu Belawan

Wagubsu H.Musa Rajeck Shah Menerima Kunjungan Pengurus FABB Dan Mendukung Program Rehabilitasi Kawasan Laut Berbasis Rumpon Terpadu, Rumah Dinas Jalan Tengku Daud Medan,2/2021. (Foto/Isti)
INDONESIA98.COM (SUMUT) : Kehidupan nelayan tradisional Belawan yang masih memprihatinkan dan jauh dari kesejahteraan menjadi perhatian utama bagi FABB (Forum Anak Belawan Bersatu ) yang dinakodai R. Khairil Chaniago untuk menawarkan program konkrit kepada pemprovsu sebagai solusi dalam mengatasi masalah ekonomi nelayan tradisional Belawan.
Niat itu mendapat respon yang baik dari Wagubsu H. Musa Rajeck Shah dimana Forum Anak Belawan Bersatu (FABB) memperoleh waktu dan kesempatan untuk mempresentasikan Program Kerja nya yaitu “Upaya Peningkatan Hasil Tangkap Nelayan Tradisional Melalui Rehabilitasi Kawasan Laut Berbasis Rumpon Terpadu”, bertempat di rumah dinas Wakil Gubernur, Jalan Tengku Daud Medan, 2/6/2021.
Dalam presentasinya R.Khairil Chaniago menjabarkan visi yang ingin dicapai oleh organisasi yang di pimpinnya,(Red FABB), yaitu kesejahteraan masyarakat dan nelayan Belawan. ” Melalui Misi berupa “pemberdayaan pola pikir” dan “pemberdayaan ekonomi” terhadap para anggota dan masyarakat,” sebut Khairil melalui keterangan resminya yang diterima Indonesia98.Com, 3/6/2022.
Sambung Khairil lagi bahwa masyarakat Belawan yang mendiami wilayah pesisir kota Medan khususnya para nelayan tradisional saat ini kehidupannya telah mengalami degradasi ekonomi yang cukup drastis.
” Banyak variable yang menyebabkan hal ini terjadi dan salah satunya adalah akibat rusaknya ekosistem laut akibat penggunakan alat tangkap perikanan yang destruktif, sehingga banyak wilayah pemijahan ikan yang hancur baik di sepadan pantai maupun di zona tangkap dasar nelayan tradisional dan akhirnya membuat terjadinya penurunan stock ketersediaan ikan di wilayah perairan,” ungkap Khairil bersemangat.
Di hadapan Wagubsu Khairil juga mengutarakan kesedihannya.
” Saat ini nelayan tradisional mengalami kemiskinan struktural, bukan karena kekayaan alam Indonesia yang jumlahnya sedikit dan dinikmati oleh orang yang begitu banyak, namun kebalikannya yaitu kekayaan alam kita jumlahnya begitu banyak namun dinikmati hanya segelintir orang, hal ini mencerminkan bahwa telah terjadi ketidakadilan dalam pengelolaan dan pemanfaatan ekonomi wilayah laut,” papar Khairil.
Lebih lanjut Khairil mengatakan jika hal ini mengalami pembiaran, maka akan terjadi ketidakseimbangan ekosistem hayati laut akibat pemanfaatan yang over tanpa dibarengi oleh upaya pemulihannya. Untuk itu program Rehabilitasi kawasan laut berbasis rumpon terpadu kiranya dapat menjadi salah satu bagian dalam rangka pemulihan tersebut.
” Konsep Rumpon Terpadu ini bersifat multi fungsi yaitu disamping sebagai upaya rehabilitasi kawasan laut, juga dapat menjadi semacam benteng zona tangkap nelayan tradisional dari pelaku destruktif fishing,” kata Khairil menyakinkan.
Dijelaskannya lagi, disamping itu manfaatnya juga beragam, mulai dari memudahkan para nelayan tradisional dalam menemukan tempat mengoperasikan alat tangkapnya dilokasi yang penuh potensi, dapat menyumbang PAD dari pola retribusi hasil tangkapan nelayan yang termanajemen, menjadi objek wisata bahari khusunya bagi para pemancing mania, dan dapat pula menjadi daerah observasi dan penelitian (riset) dalam kegiatan akademis.
Setelah mendengar pemaparan Khairil, Wagubsu H.Musa Rajeck Shah menyatakan ikut merasa prihatin melihat kehidupan para nelayan tradisional.
Kemudian Ijeck menceritakan sedikit pengalamannya saat mendampingi para nelayan yang ada di pesisir barat kabupaten Madina.
” Ada beberapa kapal ikan yang disumbangkannya untuk para nelayan di Madina, namun mereka tetap miskin karena wilayah tangkapan mereka sudah di gasak oleh ganasnya pukat trawl dari Thailand yang beroperasi disana, hal ini kemudian membuat beliau berusaha untuk mengajak para nelayan agar melakukan diversifikasi usaha melalui pertanian dan perkebunan plasma dan sekarang kondisi kehidupan mereka sudah menjadi jauh lebih baik,” ungkap Ijeck.
Disebut Ijeck lagi, tentu hal ini berbeda dengan situasi yang ada di Belawan, sulit melakukan diversifikasi usaha.
” Semoga Program Rumpon Terpadu yang telah dipaparkan menjadi bahagian solusi, dan pemerintah provinsi Sumatera Utara sangat mendukung terealisasinya program tersebut, namun ada beberapa hal yang harus di analisa secara lebih dalam lagi, baik terkait hal-hal teknis peralatan, penentuan titik lokasi rumpon terpadu tersebut, serta model manajemen yang diterapkan, hal ini dimaksudkan agar program yang membutuhkan biaya besar ini dapat teraplikasi dengan benar dan tidak menjadi sia-sia,” ungkap Ijeck.
Dalam pertemuan itu, Ijeck secara spontan memanggil pihak Dinas Kelautan dan Perikanan provinsi Sumatera Utara, yang diwakili Kepala Bidang Perikanan dan Budidaya Bapak Agustono, untuk terlibat aktif dalam melihat serta mengatasi persoalan nelayan yang ada di Belawan.
” Kita ingin pemerintah bisa berbuat dan hadir ditengah tengah nelayan tradisional, karena mereka juga adalah saudara-saudara kita yang wajib kita pikirkan, mari kita cari dan realisasikan langkah serta upaya yang bersifat memperkuat dan mempercepat tercapainya kesejahteraan mereka,” tegas Ijeck selaku Wagubsu
Pertemuan Wagubsu dengan FABB dihadiri Ketua Umum FABB R. Khairil Chaniago didampingi Waketum Hadi Suhendra Hamidi serta Adi Mardiansyah, Gilang dan Rifki yang merupakan volunters Tim Rancang Desain Program FABB dari Mahasiswa Arsitektur.(Tyf/I98)