Membaca Ulang Kartini, Panggil Aku Kartini Saja dan Gelap-Terang Hidup Kartini

by indonesia98

INDONESIA98.COM (JAKARTA):

Wahai Ibu kita Kartini, putri yang mulia, sungguh besar cita-citanya, bagi Indonesia. Itulah bait terakhir dari lagu berjudul Ibu Kita Kartini ciptaan Wage Rudolf Supratman.

Lagu itu boleh dibilang tak mengada-ada, karena sesuai dengan sepak terjang Kartini. Seorang perempuan yang memang pantas dikenang bukan hanya karena mengangkat derajat kaumnya lewat pendidikan, tapi juga seorang pejuang yang ingin membebaskan bangsanya dari kebodohan.

Seri Buku Saku Tempo: Perempuan-perempuan Perkasa edisi Kartini, diterbitkan oleh KPG pertama sekali pada April 2017.

Buku yang disunting oleh Leila S.Chudori ini sungguh melengkapi buku tentang Kartini yang pernah ada- setidaknya buku-buku tentang Kartini yang pernah saya baca, utamanya buku Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer juga buku terjemahan surat-surat Kartini yang diterbitkan KITLV – LIPI berjudul Kartini– yang terbit tahun 1989.

Buku Kartini yang ditulis Pram ini mengulas sejarah Kartini dari kecil hingga wafat serta apa saja hal-hal yang mempengaruhi jalan pikirannya, dan bagaimana kemudian dia mengimplementasikan pikiran-pikirannya itu untuk kesejahteraan orang banyak.

Juga ada cerita di balik penerjemahan surat-surat Kartini di dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang sesungguhnya ‘masih gelap’ karena kompilasi surat-surat itu hanya sesuai dengan keinginan dan pikiran Belanda.

Pram menulis, jika buku Habis Gelap Terbitlah terang itu; yang ditonjolkan dari Kartini bukan perjuangannya tapi ratap tangis serta manifestasi keputusasaan dan kehilangan akal serta ketergantungan Kartini pada Belanda.

Dan tentu saja semua itu tak lepas dari kepentingan politik Belanda masa itu.

Saya sepakat soal itu. Jika saja kita membaca buku karya Pram ini dari dulu, mungkin tak banyak kontroversi yang mengatakan mengapa seolah-olah ‘hanya’ Kartini saja perempuan Indonesia ‘yang harum namanya’- padahal banyak juga perempuan Indonesia di generasinya bahkan generasi setelah itu- yang juga menulis dan berjuang sepertinya.

Sayang sekali memang, ketika kekuasaan di tangan pemerintahan Soeharto, buku-buku Pram haram hukumnya dibaca- tak peduli sebagus apapun buku-buku itu. Sehingga, buku ini tak begitu populer dan banyak diketahui serta dibaca oleh publik.

Seingat saya, sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, buku tentang Kartini yang banyak kita tahu dan kita mamah hanya yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang- yang pada akhirnya membuat pandangan dan pengetahuan kita begitu sempit tentang Kartini- yang oleh banyak orang disebut hanya bicara soal emansipasi perempuan.

Dan kemudian saban tahun dimanifestasikan lewat perayaan peragaan busana kebaya.

Buku Pram ini, sejak diterbitkan pertama sekali tahun 1962, telah dicetak ulang sebanyak 13 kali. Cetakan kali ke-13 ini dilakukan pada tahun 2018.

Buku ini juga menceritakan, bagaimana kemudian surat-surat Kartini yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Arab juga Rusia mempengaruhi gerakan perempuan di Syria dan juga Rusia di bawah kepemimpinan Czar masa itu.

Sementara buku saku tentang Kartini yang dirilis Tempo ini membuat kita lebih memahami Kartini dan juga dunianya di masa itu. Ditulis dengan narasi khas laporan jurnalistik, membuat buku ini punya nilai lebih lain.

Walau hanya ditulis dalam 154 halaman dalam ukuran buku saku, tapi banyak hal baru yang mungkin dapat kita ketahui soal siapa sesungguhnya Kartini.

Semisal dikisahkan, orang yang melarang Kartini dan Roekmini untuk tidak bersekolah ke Belanda bukanlah ayah atau keluarganya, tetapi adalah Jacques Henrij Abendanon, direktur di Departemen Pendidikan, Agama dan Industri Hindia Belanda, yang sangat dekat dengan keluarga Kartini.

Bahkan Kartini menganggapnya sebagai ayah angkatnya. Keputusan yang dibuat Abendanon itu sangat disesali Kartini (hal.98).

Beragam analisis dilakukan banyak peneliti dan penulis tentang kegagalan keberangkatan sekolah ke Belanda ini.

Yang paling menggelitik dan paling pas menurut saya setidaknya yang ditulis oleh Sitisoemandari, yang mengatakan jika Abendanon adalah orang yang menggagalkan rencana itu.

Karena dia khawatir, Kartini yang dekat dengan orang-orang sosialis Belanda -yang sebagian besar adalah teman-teman korespondennya- nantinya dapat mengetahui banyak hal dan isu tentang Hindia Belanda dari Kartini, tentang ketidakberesan di Jawa, soal kelaparan, gagal panen, dan banjir karena salah urus irigasi. Nantinya, isu itu dikhawatirkan akan dimanfaatkan kelompok sosialis Belanda untuk menyerang Pemerintah Tinggi (pemerintah pusat) dan pemerintah Hindia Belanda (hal.103).

Jadi, Kartini bukan saja bicara bagaimana mendirikan sekolah bagi anak-anak perempuan, tapi dia juga punya banyak pandangan dan pikiran tentang bangsanya di masa itu – yabg ditulisnya dalam banyaj suratnya juga tulisan kolomnya di berbagai jurnal dan surat kabar dengan berbagai nama samaran.

…Ibu kita Kartini, Putri Jauhari, putri yang berjasa, se-Indonesia….Selamat Hari Kartini (Raihan Lubis)

Baca Juga