Gubsu Difitnah! Sosok yang Mencintai Ulama Digoyang Isu “Katanya Marahi Ulama”

by indonesia98

INDONESIA98.COM | MEDAN – Sosok Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi selama ini dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan ulama. Sejak dicalonkan sebagai Gubernur Sumut pada Pilgubsu 2018 hingga saat ini, kedekatan Edy Rahmayadi kepada ulama tidak kita ragukan lagi. Baru-baru ini, Edy Rahmayadi bahkan baru saja ditunjuk sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Sumut. Jika pria yang juga mantan Pangkostrad itu tidak dekat dan cinta dengan ulama, tidaklah mungkin beliau menduduki jabatan di organisasi resmi yang menaungi para ulama di Sumatera Utara.

Fakta kecintaan Edy Rahmayadi terhadap ulama bisa kita saksikan sendiri dalam keseharian beliau, suatu hal yang lazim kita lihat, beliau kerap kali mencium tangan para ulama sepuh dalam beberapa kesempatan. Dalam beberapa program kerja pemerintahan, sosok Gubernur Sumut ini juga sangat sering melibatkan para ulama dan juga tokoh-tokoh agama lain. Ini adalah sederatan fakta yang tak terbantahkan dan tidak dibuat-buat yang sejak lama ditunjukkan oleh seorang Edy Rahmayadi. Fakta lainnya yang tak terbantahkan, kecintaan Edy Rahmayadi kepada ulama dan umat juga ia tunjukkan melalui dukungan beliau atas pembangunan Masjid Gubsu yang berdiri kokoh di halaman Kompleks Rumah Dinas Gubernur Sumatera Utara, yang kini sudah aktif berjalan atas dukungan penuh beliau. Selain itu, kegigihan beliau dalam mewujudkan misi membangun Masjid Agung Sumatera Utara yang kelak akan menjadi kebanggaan umat Islam dan masyarakat Sumatera Utara sekaligus pusat pengembangan umat baik di bidang dakwah, pendidikan, ekonomi dan lain sebagainya.

Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi Saat Meninjau Pembangunan Masjid Agung Sumatera Utara (Foto : Istimewa)

Ketika Fitnah Keji Bergulir, Bagaimana Sikap Kita??

Baru-baru ini sebuah berita yang entah darimana sumbernya mengatakan bahwa Gubernur Sumatera Utara “katanya” membentak seorang ulama asal Mandailing Natal. Melalui informasi viral tersebut, seorang ulama bernama Syekh Abdul Bais Nasution dan Ustaz Mahyuddin disebut-sebut dimarahi Edy Rahmayadi saat meminta sekolah dibuka untuk belajar tatap muka usai melakukan salat subuh berjemaah di Masjid Agung Medan. Alih-alih melakukan konfirmasi ke pihak yang bersangkutan, dalam hal ini adalah Edy Rahmayadi, ehhh, portal berita online ini secara sepihak malah ikut menghakimi Edy Rahmayadi melalui info yang cuma “katanya” itu.

Sayangnya, informasi keliru ini disambut oleh beberapa oknum mengatasnamakan aktivis Islam, menuntut Gubernur Sumut agar meminta maaf kepada ulama tersebut. Pertanyaannya sekarang, apakah benar Gubernur Sumut membentak ulama tersebut? Adakah bukti konkret misal rekaman video yang menunjukkan fakta bahwa Gubernur kala itu membentak ulama?

Edy Rahmayadi melalui keterangan langsung kepada wartawan justru mengaku heran dan bertanya balik kepada wartawan yang mengonfirmasi dirinya, “Tanyakan yang marah siapa?” kata Edy di rumah dinasnya, Medan, pada Senin (18/1/2021). Karena merasa tidak memarahi siapa-siapa, tentu saja manusiawi jika Edy bertanya-tanya sekaligus heran mendengar informasi tersebut. Apalagi, berita itu disebarkan secara sepihak tanpa ada konfirmasi langsung baik ke Gubenur Sumut maupun ke pihak berwenang seperti Biro Humas Sumut atau Dinas Kominfo Sumut.

Edy Rahmayadi Saat Mengikuti Pengajian Secara Virtual Bersama Ustadz Abdul Somad (Foto : Istimewa)

Edy pun lantas menceritakan kronologis sebenarnya tentang kedatangan tokoh agama dari Madina untuk salat subuh berjemaah di masjid bersama dirinya. Para tokoh agama itu, kata Edy, meminta agar sekolah tatap muka diizinkan di Madina.

“Saudara-saudara saya, mana orang Madina ini? Madina, saya tak ada urusan. Datang ustadz, datang ke tempat saya salat Subuh bersama di Masjid Gubernuran. Salat, selesai salat, ‘Pak Gub, saya kepingin ngomong. Ini tabayyun saya’. ‘Oh boleh’. Sekda-nya ikut di situ. Oh Sekda, ada apa ini saya pikir. ‘Pak Edy, atas permintaan rakyat Madina, tolong sekolah tatap muka dibuka’. Saya bilang ‘COVID-19’. Saya sampaikan di Madina saat ini seperti ini begana-begini,” ujar Edy menceritakan kronologis saat itu.

Edy menceritakan ustadz tersebut terus meminta agar sekolah tatap muka diizinkan di Madina. Namun, Ia belum mengizinkan sekolah tatap muka digelar saat ini dan harus menunggu kajian ulang pada Maret 2021.

“Tapi ini permintaan masyarakat. ‘Tidak saya izinkan Pak Ustadz. Nanti bulan Maret yang akan datang baru dikaji kembali’,” sebut Edy.

Nah, apa yang salah dari statemen tersebut? Sebagai pemimpin di Sumatera Utara, Edy Rahmayadi pastinya memiliki pertimbangan kenapa sampai saat ini belum mengizinkan belajar tatap muka, dan beliau menyampaikan penolakan tersebut dengan bahasa yang lembut dan tidak ada sedikitpun nada membentak sebagaimana fitnah yang beredar selama ini.

Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi Saat Mengikuti Pengajian di Masjid Gubsu (Foto : Istimewa)

Lantas, bagaimana sikap kita? Sebagai masyarakat Sumatera Utara, marilah kita bijak dalam menerima informasi. Jangan sampai, kebencian kita pada seseorang membuat kita tidak berlaku adil dan lantas “main hakim sendiri”. Dalam etika jurnalistik, wartawan seharusnya melakukan “cover both side” yaitu menyajikan informasi secara berimbang melalui dua sisi narasumber, ada proses konfirmasi ke pihak yang lain. Apa yang dilakukan oleh wartawan yang menyebarkan berita fitnah tersebut sudah jelas melangkahi kaidah dan etika jurnalistik, seharusnya Dewan Pers menegur cara-cara penyajian berita seperti itu karena terkesan sangat tendensius sekali. Mari kita lebih bijak lagi dalam menelaah informasi, waspadai berbagai macam fitnah dan ujaran kebencian berkedok pers yang belakangan ini sangat meresahkan.

Baca Juga