INDONESIA98.COM, JAKARTA – Jemaah haji yang wafat di tanah suci terus bertambah jelang puncak haji 1446 H/2025 M. Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) yang diakses pada Jumat (30/5) pukul 18.00 WIB, jemaah wafat mencapai 100 orang.
Data lokasi wafat menunjukkan jemaah sebelumnya dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Bandara, Madinah, dan Makkah.
Dilihat dari sebaran umur, 53 persen jemaah wafat adalah lanjut usia (lansia) dan 47 persen lainnya berusia 41-64 tahun. Mayoritas jemaah wafat adalah laki-laki.
Berdasarkan asal embarkasi, mayoritas jemaah wafat berasal dari Embarkasi Solo (SOC), mencapai 15 orang. Kemudian disusul jemaah asal Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS) dan Embarkasi Surabaya (SUB) masing-masing 13 orang.
Kepala Bimbingan Ibadah PPIH Arab Saudi Zaenal Muttaqin mengatakan jemaah haji yang wafat akan mendapat layanan badal haji. Layanan badal haji ini diberikan pada jemaah yang wafat dan belum sempat melaksanakan wukuf di Arafah.
“Bagi jemaah yang telah meninggal dunia sebelum wukuf di Arafah, pemerintah Indonesia akan memfasilitasi pelaksanaan badal haji atau mereka akan dibadal hajikan,” terang Zaenal di Kantor Urusan Haji Daker Makkah, Rabu (14/5), dilansir Kemenag.
Zaenal menjelaskan, badal haji ini berlaku untuk jemaah yang wafat di embarkasi, dalam perjalanan menuju Arab Saudi, atau setelah tiba di Madinah atau Makkah tapi belum wukuf di Arafah.
Sementera itu, jemaah haji yang meninggal dunia di Tanah Suci akan dimakamkan di Arab Saudi. Lokasi pemakaman biasanya dipilih berdasarkan tempat terakhir jemaah menjalani perawatan.
Ada dua pemakaman yang umum digunakan jemaah Indonesia, yakni Baqi untuk jemaah yang meninggal di Madinah dan Ma’la atau Soraya untuk jemaah yang meninggal di Makkah. (au)



