INDONESIA98.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami anjlok yang signifikan, mencapai Rp 16.590 per dolar AS pada Selasa sore, (25/3). Ini merupakan posisi terendah yang dicatatkan sejak krisis finansial Asia tahun 1998.
“Tekanan terhadap rupiah meningkat dalam dua pekan terakhir. Kemarin Rupiah sempat melemah ke level 16.590, yang merupakan level terendah sejak Juni 1998,” kata Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, Rabu (26/3).
Sejauh ini, mata uang rupiah telah melemah 4,79 persen selama setahun terakhir. Meski demikian, pelemahan nilai tukar pada Selasa kemarin tidak hanya terjadi pada rupiah. Mata uang ringgit Malaysia melemah 0,2 persen dan baht Thailand juga turun ke level terendah dalam tiga minggu.
“Kinerja buruk rupiah sebagian besar disebabkan oleh faktor fundamental yang melemah, termasuk kekhawatiran fiskal, defisit transaksi berjalan yang tak terduga, perlambatan ekonomi, dan ekspektasi bahwa BI mungkin harus segera melonggarkan kebijakan,” ujar Christopher Wong, analis mata uang di OCBC, dikutip dari Kontan.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan, dalam jangka pendek, pelemahan rupiah akan berdampak pada stabilitas ekonomi Indonesia. Pasalnya, ketidakstabilan nilai tukar dapat menambah ketidakpastian dalam ekonomi, yang berdampak pada iklim investasi dan kegiatan ekonomi secara lebih luas.
“Kalau rupiahnya gonjang-ganjing, ini akan berimplikasi kepada kondisi makroekonomi kita,” ujarnya dalam diskusi publik Indef, Selasa (26/3).
Dia melanjutkan, fluktuasi nilai tukar rupiah dapat berpengaruh pada ekspektasi pasar terhadap kondisi ekonomi, termasuk saat momen-momen penting seperti Lebaran. (au)




