INDONESIA98.COM, SUKOHARJO – Perusahaan tekstil terbesar di Indonesia, PT Sri Rejeki Isman (Sritex Tbk) yang berada di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah resmi berhenti beroperasi pada Sabtu (1/3) atau hari ini.
Salah satu pabrik yang menjadi bagian dari Sritex Group itu harus tutup lantaran dampak kondisi pailit perusahaan. Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kabupaten Sukoharjo sebelumnya telah mengkonfirmasi bahwa pabrik tekstil yang berdiri pada 58 tahun silam itu resmi tutup per 1 Maret 2025.
Tak hanya pabrik Sritex yang berada di Sukoharjo saja, anak perusahaan lain dari Sritex Group juga terimbas kondisi pailit. Para karyawan terakhir bekerja pada hari Jumat, (28/2).
Berdasarkan catatan Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Tengah yang bersumber dari informasi pihak kurator Sritex, total sebanyak 10.665 orang karyawan Sritex Group yang terkena PHK.
Sementara itu, Direktur Utama PT Sritex Tbk, Iwan Kurniawan Lukminto mengucapkan terima kasih atas loyalitas dan dedikasi ke mantan karyawannya yang telah membangun perusahaan sejak 1966.
“Kami berduka, namun kami harus terus memberi semangat,” ujar Iwan pada Jumat, sebagaimana dilansir Antara.
Ia menegaskan, manajemen Sritex berjanji kooperatif dan bekerja sama dengan kurator agar proses pemberian hak-hak karyawan yang di PHK berjalan dengan lancar.
Di sisi lain, kurator kepailitan Sritex, Denny Ardiansyah, menyebut PHK massal ini bagian dari syarat administratif agar karyawan bisa segera mencari pekerjaan baru.
“Oleh karena itu, kami fasilitasi dengan meminta petugas dinas tenaga kerja dan BPJS Ketenagakerjaan datang ke pabrik Sritex. Tidak perlu para karyawan mendatangi kantor dinas atau BPJS,” kata Denny.
Ia menegaskan hak karyawan masuk dalam daftar tagihan utang yang diprioritaskan.
Sebelumnya, PT Sritex resmi memberhentikan 10.665 karyawan yang menjadi korban PHK. Pasalnya pabrik tekstil terbesar di Indonesia itu dinyatakan bangkrut dan tutup permanen pada Sabtu (1/3) Keputusan ini diambil akibat tekanan finansial yang semakin berat, dengan utang perusahaan yang mencapai hampir Rp 30 triliun. (rp)




